Minggu, 08 Desember 2019

Perbedaan-Perbedaan Individual Belajar


MAKALAH PSIKOLOGI PENDIDIKAN
PERBEDAAN-PERBEDAAN INDIVIDUAL BELAJAR


DISUSUN OLEH:
KELOMPOK 1
1.      Umi Hanifa                 (1820203074)
2.      Arnila Asham              (1830203087)
3.      Ependri                       (1830203101)


Dosen Pengampu: Dr. Saipul Annur, M.Pd

PROGRAM STUDI MANAJEMEN PENDIDIKAN ISLAM
FAKULTAS ILMU TARBIYAH DAN KEGURUAN
UNIVERSITAS ISLAM NEGERI RADEN FATAH PALEMBANG
2019

BAB I
PENDAHULUAN
A.    Latar Belakang
Dalam proses belajar mengajar disekolah hendaknya seorang guru mengetahui perbedaan-perbedaan individual dalam belajar. Oleh karena itu, seorang guru dituntut untuk mengetahui tingkat kemampuan yang dimiliki siswanya dalam belajar. Apakah siswanya memiliki tingkat tingkat kecerdasan yang tinggi atau rendah. Bila siswanya memiliki kecerdasan yang tinggi seorang guru tidak perlu mengulangi lagi materi yang sudah disampaikan akan tetapi bila mayoritas tingkat intelegensi siswa rendah maka seorang guru harus dapat mengulangi kembali sampai siswa dapat memahaminya.
Disamping itu, seorang guru harus dapat memberikan motivasi kepada siswanya untuk beraktivitas dalam belajar. Sebab siswa yang mengulagi belajarnya dirumah atau belajar kelompok akan dapat membantu siswa didalam memahami materi pelajaran yang di sampaikan guru di dalam kelas. Oleh karena itu, seorang guru harus dapat memahami perbedaan individual belajar siswa. Di dalam makalah ini penulis akan mencoba mendeskripsikan tentang perbedaan-perbedaan individual belajar siswa yang memfokuskan pada intelegasi siswa dan cara belajar siswa itu sendiri.








BAB II
PEMBAHASAN
A.    Perbedaan Individual Belajar
Perbedaan individual di antara anak didik merupakan hal yang tidak mungkin dihindari, karena hamper tidak ada kesamaan yang dimiliki oleh manusia kecuali perbedaan itu sendiri. Karenanya, perbedaan individual anak didik cukup banyak, yang semuanya merupakan ciri kepribadian anak didik sebagai individu.
Menurut Suhsrsimi Arikunto, yang dikutip oleh Nyayu Khadijah, agama, intelektual, social, etika, dan etika, da estetika, ke semua aspek tersebut tidak di miliki oleh semua anak didik. Karena itu, setiap anak didik memiliki keunikan masing-masing(Dra. Rohmalina Wahab, 2015, p. 65).
Perbedaan individual belajar siswa antara satu dengan lainnya berbeda di sebabkan karena kemampuan intelegensi dan cara belajar yang berbeda, hal ini berimplikasi kepada prestasi belajar individu itu sendiri. Berikut ini akan dijelaskan tentang perbedaan-perbedaan individual belajar tersebut(Dr. Saipul Annur, 2019, p. 173).

1.      Intelegasi Individu
Istilah intelegensi berasal dari kata lain “intelligere” yang berarti menghubungkan atau menyatukan satu sama lain (to organiza, to relate, to bind together) (Walgito, 1997). Dalam Bahasa arab, intelegensi di sebut dengan ad-dzakayang berarti pemahaman, kecepatan, dan kesempurnaan sesuatu. Dalam arti, kemampuan (al-qudrah) dalam memahami sesuatu secara cepat dan sempurna (murad, dalam Mujib dan Mudzakir, 2002).
Intelegensi sering di artikan dengan kecerdasan. Istilah “cerdas” sendiri sudah lazim di pergunakan dalam kehidupan sehari-hari. Bila seseorang tahu banyak hal, maupun belajar cepat, serta berulang kali dapat memilih tindakan yang efektif dalam situasi yang rumit, maka disimpulkan bahwa ia orang yang cerdas(Prof. Dr. Nyayu Khadijah, 2017, p. 89).
Pada dasarnya intelegensi merupakan sebuah ukuran tingkat kecerdasan yang berkaitan dengan individu. Dalam psikologi intelegensi memiliki arti yang beranekaragam antara lain, yaitu: kemampuan menyesuaikan diri dengan situasi baru atau kemampuan menggunakan menggunakan konsep-konsep abstrak secara efektif. Dengan demikian dapat dikatakan intelegensi adalah kecerdasan.
Selain intelegensi perbedaan individual dalam belajar adalah emosi atau perasaan seseorang sangat mempengaruhi aktivitas yang dilakukannya, termasuk di dalamnya aktivitas belajar. Secara umum kita dapat mengenal berbagai perasaan seperti sedih, gembira, marah cemas, takut dan sebagainya. Seseorang yang merasa senang, betah dan aman berada dalam suatu tempat akan melakukan aktivitasnya dengan semangat sehingga ia mengkin menjadi jauh lebih produktif dibandingkan dengan orang yang merasa takut atau tidak aman.
Menurut para ahli kondisi  emosi yang serba negative tersebut disebabkan oleh  pertumbuhan biologis terutama mulai bekerjanya kelenjar-kelenjar kelamin, yang membawa perubahan yang radikal pada diri anak. Perubahan ini sering tidak dapat dipahami oleh anak, sehingga mereka di hinggapi oleh rasa ragu-ragu, kurang pasti. Kondisi emosional tersebut mengakibatkan menurunnya prestasi belajar, baik jasmani maupun sikap social. Oleh karena itu, dengan memahami karakteristik emosional mereka sebagai guru kita dapat mengarahkan mereka menjadi berkembang kearah yang positif(Dr. Saipul Annur, 2019, pp. 173-174).
2.      Cara Belajar Individu
Aktivitas belajar terdiri dari dua kata, yakni aktivitas dan belajar. Aktivitas berasal dari Bahasa inggris “activity”, yang mengandung banyak arti, antara lain: aktivitas jasmani, kegiatan dan kesibukan. Dalam kamus pendidikan pelajar dan umum, aktivitas di artikan dengan kegiatan atau kesibukan, demikian juga dalam kamus ilmiah popular, aktivitas diartikan dengan kegiatan.Dari pengertian di atas, dapat dipahami bahwa aktivitas adalah suatu kegiatan atau kesibukan yang dilakukan seseorang.
Jadi, aktivitas belajar yang di maksud disini adalah suatu kegiatan yang dilakukan secara sadar oleh individu dalam usahanya untuk menemukan hal-hal baru dalam usahanya untuk menemukan hal-hal baru dalam mencapai suatu prestasi belajar yang lebih baik dari sebelumnya. Adapun prosesnya adalah terkait dengan cara belajar yang ia lakukan baik di sekolah maupun luar sekolah(Dr. Saipul Annur, 2019, p. 174).
Setiap kegiatan belajar di harapkan akan ada perubahan pada diri individu, seperti dari tidak tahu menjadi tahu, dari tidak mengerti menjadi mengerti, dari tidak dapat mengerjakan menjadi dapat mengerjakan, dan dari semula tidak paham menjadi paham. Perubahan yang terjadi pada diri individu tidak selalu diakibatkan karena perbuatan belajar, tetapi dapat disebabkan oleh proses pematangan, misalnya dapat berjalan, dapat duduk, dan dapat berlari(Drs. Sunaryo, 2004, p. 165).
            belajar mengandung barbagai unsur penting yang patut di cermati, menurut Hamalik antara lain sebagai berikut:
a.       Belajar harus mempunyai tujuan tertentu, tanpa tujuan maka tidak dapat dikatakan belajar
b.      Aktivitas belajar hendaknya berlangsung lama dan terrencana
c.       Aktivitas belajar berlangsung secara sadar, dan bukan atas paksaan dari pihak manapun
d.      Dalam mencapai tujuan, siswa akan selalu mendapatkan kesulitan, rintangan dan situasi yang kurang menyenangkan
e.       Setiap kegitan hendknya dihubungkan dengan situasi  dan tujuan belajar, dan lain sebagainya
f.       Siswa diarahkan dan di bantu oleh orang-orang yang berada dalam lingkungan itu, dan sebagainya
g.      Siswa memberikan reaksi secara keseluruhan
h.      Siswa memberikan reaksi dari lingkungan yang bermakna baginya
i.        Proses belajar terutama mengerjakan hal-hal yang sebenarnya, yakni belajar apa yang di buat dan mengerjakan apa yang di pelajari
j.        Siswa dibawa/diarahkan ketujuan-tujuan lain, baik yang berhubungan maupun tidak dengan tujuan utama dalam situasi belajar.
Sedangkan menurut Sudjana ada beberapa indicator yang dapat di jadikan ukuran dalam aktivitas belajar siswa yaitu:
Adanya aktivitas belajar secara individu dan secara kelompok,
a.       Adanya partisipasi siswa dalam melaksanakan tugas belajar melalui berbicara
b.      Adanya kemampuan untuk menganalisis, sistesis, penilaian dan kesimpulan
c.       Terjadinya hubungan sosial antara sesama siswa dalam melaksanakan kegiatan belajar
d.      Setiap siswa dapat memberikan tanggapan terhadap siswa lainnya
e.       Siswa berkesempatan menggunakan berbagai sumber belajar yang ada
f.       Adanya upaya siswa untuk menilai hasil belajar yang dicapai
g.      Adanya upaya siswa untuk meminta pendapat para guru atau kepada siswa dalam kegiatan belajar.
Oleh sebab itu belajar harus di motivasi dari diri individu maupun belajar dengan teman (kelompok) dengan tujuan dapat meningkatkan prestasi belajar. Adapun belajar individu adalah motivasi dari diri sendiri tanpa melibatkan orang lain kecuali guru yang membimbing.
            Menurut E.R Russefendi, mengemukakan ada 10 ciri belajar individu, yaitu:
a.       Memberikan kesempatan yang sepenuhnya kepada siswa dalam belajar
b.      Siswa belajar sesuai dengan kemampuannya
c.       Pengajaran itu berpusat pada siswa
d.      Siswa mennetukan sendiri urutan unit yang akan dipelajari
e.       Siswa belajar secara tuntas
f.       Setiap unit yang dipelajari memuat TIK yang jelas
g.      Keberhasilan siswa diukur berdasarkan sistem nilai mutlak
h.      Guru bertindak sebagai pembimbing
i.        Lebih banyak media pendidikan yang digunakan
j.        Hasil test tak dipakai sebagai penentu kelulusan siswa.
Dari ciri-ciri belajar individu di atas dapat di simpulakan bahwa belajar  individu merupakan suatu proses belajar yang memberikan kesempatan sepenuhnya kepada siswa untuk belajar secara tuntas sedangkan guru hanya sebagai pembimbing.
Oleh sebab itu motivasi dari dalam diri individu sangat menentukan di dalam proses belajar. Adapun indikator belajar individu, yaitu: adanya materi pelajaran, adanya kemampuan untuk menganalisa materi pelajaran dengan cara membaca dan mencatat serta menjawab soal.
Sedangkan belajar kelompok menurut Sukmadinata, adalah kesatuan individu yang saling berinteraksi yang memungkinkan terjadinya interaksi dan respon untuk mencapai tujuan bersama. Hal senada juga dikemukakan JJ Hasibuan, belajar kelompok adalah startegi belajar mengajar yang diterapkan oleh beberapa orang siswa dalam mengatasi kesulitan belajar.
Dari dua pendapat di atas dapat kita pahami bahwa belajar kelompok adalah strategi belajar yang diterapkan siswa dalam mengatasi kesulitan belaajar yang dilaksanakan secara kelompok yang saling berinteraksi guna untuk meningkatkan prestasi belajar.
Oleh sebab itu belajar kelompok merupakan salah satu cara belajar yang digunakan dalam proses belajar mengajar yang bertujuan untuk mendapatkan suatu hasil yang baik dibandingkan dengan mempergunakan cara belajar individu, sebab di dalam belajar kelompok tersebut akan terjadi dinamika interaksi beberapa siswa dalam kelompok kecil karena setiap siswa belajar kelompok telah diyakini oleh para ahli sebagai suatu cara yang efektif dalam mengatasi kejenuhan dalam belajar.
Untuk menerapkan pola belajar kelompok hendaknya diperhatikan aspek, yang meliputi:
a.       Tujuan
Setiap pekerjaan harus mempunyai tujuan yang jelas dan terarah, begitupun belajar kelompok, harus mengetahui apa yang harus dikerjakan dan bagaimana mengerjakannya, sehingga akan mendapatkan hasil yang sesuai dengan yang diharapkan yaitu berupa prestasi belajar.
b.      Interaksi
Interaksi antar anggota kelompok haruslah benar-benar terlaksanakan, sebab ada kalanya timbul perbedaan pendapat di dalam memahami suatu masalah sehingga memerlukan kekompakan dalam mencegah masalah tersebut bersama-sama. Hal ini dapat dilakukan dengan cara berdiskusi dalam mengatasi masalah tersebut dan bias juga meminta bantuan guru dalam membantu ketika di dalam belajar kelompok belum dapat memecahkan suatu masalah yang di anggap rumit.

c.       Kepemimpinan
Kepemimpinan yang ada di dalam belajar kelompok akan berpengaruh besar terhadap suasana belajar dan pada gilirannya akan mempengaruhi interaksi belajar. Oleh sebab itu kepemimpinan kelompook sangat menentukan di dalam keberhasilan belajar. Dengan demikian kepemimpinan belajar kelompok hendaknya di pilih orang yang bijak, orang yang sabar, orang berpengetahuan luas dan orang yang dihormati oleh anggota kelompok.

Supaya aspek-aspek tujuan dari belajar kelompok tersebut terpenuhi maka dalam hal ini tidak terlepas dari peran serta guru sebagaimana di kemukakan oleh JJ Hasibuan, yaitu:
a.       Organisator kegiatan belajar mengajar
b.      Sumber informasi bagi siswa
c.       Pendorong bagi siswa untuk belajar
d.      Penyediaan materi dan kesempatan belajar bagi siswa
e.       Peserta kegiatan yang mempunyai hak dan kesempatan yang sama dengan yang lain.
Dengan demikian jelaslah bahwa tugas guru dalam proses belajar mengajar sangat kompleks dan ini sangat membutuhkan keahlian guru agar dapat menjauhkan tugasnya secara efektif dan efisien sehingga terjadinya proses belajar mengajar yang baik(Dr. Saipul Annur, 2019, pp. 174-179).


BAB III
KESIMPULAN
Perbedaan individual di antara anak didik merupakan hal yang tidak mungkin dihindari, karena hamper tidak ada kesamaan yang dimiliki oleh manusia kecuali perbedaan itu sendiri. Karenanya, perbedaan individual anak didik cukup banyak, yang semuanya merupakan ciri kepribadian anak didik sebagai individu.
Intelegensi sering di sebut dengan kecerdasan. Istilah “cerdas” sendiri sudah lazim di pergunakan dalam kehidupan sehari-hari, intelegensi merupakan sebuah ukuran tingkat kecerdasan yang berkaitan dengan individu. Dalam psikologi intelegensi memiliki arti yang beranekaragam antara lain, yaitu: kemampuan menyesuaikan diri dengan situasi baru atau kemampuan menggunakan menggunakan konsep-konsep abstrak secara efektif. Dengan demikian dapat dikatakan intelegensi adalah kecerdasan.






Daftar pustaka

 

Dr. Saipul Annur, M. (2019). PSIKOLOGI PENDIDIKAN. Palembang: NoerFikri.
Dra. Rohmalina Wahab, M. (2015). Psikologi Belajar. jakarta: Rajawali Pers.
Drs. Sunaryo, M. (2004). PSIKOLOGI untuk keperawatan. jakarta: penerbit Buku Kedokteran EGC.
Prof. Dr. Nyayu Khadijah, S. M. (2017). Psikologi Pendidikan. jakarta: Rajawali Pers.