MAKALAH
PSIKOLOGI PENDIDIKAN
PERBEDAAN-PERBEDAAN
INDIVIDUAL BELAJAR
DISUSUN OLEH:
KELOMPOK 1
1.
Umi Hanifa
(1820203074)
2.
Arnila Asham (1830203087)
3.
Ependri (1830203101)
Dosen Pengampu: Dr.
Saipul Annur, M.Pd
PROGRAM STUDI MANAJEMEN PENDIDIKAN ISLAM
FAKULTAS ILMU TARBIYAH DAN KEGURUAN
UNIVERSITAS ISLAM NEGERI RADEN FATAH PALEMBANG
2019
BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar
Belakang
Dalam proses belajar mengajar disekolah hendaknya
seorang guru mengetahui perbedaan-perbedaan individual dalam belajar. Oleh
karena itu, seorang guru dituntut untuk mengetahui tingkat kemampuan yang
dimiliki siswanya dalam belajar. Apakah siswanya memiliki tingkat tingkat
kecerdasan yang tinggi atau rendah. Bila siswanya memiliki kecerdasan yang
tinggi seorang guru tidak perlu mengulangi lagi materi yang sudah disampaikan
akan tetapi bila mayoritas tingkat intelegensi siswa rendah maka seorang guru
harus dapat mengulangi kembali sampai siswa dapat memahaminya.
Disamping itu, seorang guru harus dapat memberikan
motivasi kepada siswanya untuk beraktivitas dalam belajar. Sebab siswa yang
mengulagi belajarnya dirumah atau belajar kelompok akan dapat membantu siswa
didalam memahami materi pelajaran yang di sampaikan guru di dalam kelas. Oleh
karena itu, seorang guru harus dapat memahami perbedaan individual belajar
siswa. Di dalam makalah ini penulis akan mencoba mendeskripsikan tentang
perbedaan-perbedaan individual belajar siswa yang memfokuskan pada intelegasi
siswa dan cara belajar siswa itu sendiri.
BAB
II
PEMBAHASAN
A. Perbedaan
Individual Belajar
Perbedaan
individual di antara anak didik merupakan hal yang tidak mungkin dihindari,
karena hamper tidak ada kesamaan yang dimiliki oleh manusia kecuali perbedaan
itu sendiri. Karenanya, perbedaan individual anak didik cukup banyak, yang
semuanya merupakan ciri kepribadian anak didik sebagai individu.
Menurut
Suhsrsimi Arikunto, yang dikutip oleh Nyayu Khadijah, agama, intelektual,
social, etika, dan etika, da estetika, ke semua aspek tersebut tidak di miliki
oleh semua anak didik. Karena itu, setiap anak didik memiliki keunikan
masing-masing(Dra. Rohmalina Wahab, 2015, p. 65).
Perbedaan
individual belajar siswa antara satu dengan lainnya berbeda di sebabkan karena
kemampuan intelegensi dan cara belajar yang berbeda, hal ini berimplikasi
kepada prestasi belajar individu itu sendiri. Berikut ini akan dijelaskan
tentang perbedaan-perbedaan individual belajar tersebut(Dr. Saipul Annur, 2019, p. 173).
1. Intelegasi
Individu
Istilah
intelegensi berasal dari kata lain “intelligere”
yang berarti menghubungkan atau menyatukan satu sama lain (to organiza, to relate, to bind together) (Walgito, 1997). Dalam
Bahasa arab, intelegensi di sebut dengan ad-dzakayang
berarti pemahaman, kecepatan, dan kesempurnaan sesuatu. Dalam arti, kemampuan (al-qudrah) dalam memahami sesuatu secara
cepat dan sempurna (murad, dalam Mujib dan Mudzakir, 2002).
Intelegensi
sering di artikan dengan kecerdasan. Istilah “cerdas” sendiri sudah lazim di
pergunakan dalam kehidupan sehari-hari. Bila seseorang tahu banyak hal, maupun
belajar cepat, serta berulang kali dapat memilih tindakan yang efektif dalam
situasi yang rumit, maka disimpulkan bahwa ia orang yang cerdas(Prof. Dr.
Nyayu Khadijah, 2017, p. 89).
Pada
dasarnya intelegensi merupakan sebuah ukuran tingkat kecerdasan yang berkaitan
dengan individu. Dalam psikologi intelegensi memiliki arti yang beranekaragam
antara lain, yaitu: kemampuan menyesuaikan diri dengan situasi baru atau
kemampuan menggunakan menggunakan konsep-konsep abstrak secara efektif. Dengan
demikian dapat dikatakan intelegensi adalah kecerdasan.
Selain
intelegensi perbedaan individual dalam belajar adalah emosi atau perasaan
seseorang sangat mempengaruhi aktivitas yang dilakukannya, termasuk di dalamnya
aktivitas belajar. Secara umum kita dapat mengenal berbagai perasaan seperti
sedih, gembira, marah cemas, takut dan sebagainya. Seseorang yang merasa
senang, betah dan aman berada dalam suatu tempat akan melakukan aktivitasnya
dengan semangat sehingga ia mengkin menjadi jauh lebih produktif dibandingkan
dengan orang yang merasa takut atau tidak aman.
Menurut
para ahli kondisi emosi yang serba
negative tersebut disebabkan oleh
pertumbuhan biologis terutama mulai bekerjanya kelenjar-kelenjar kelamin,
yang membawa perubahan yang radikal pada diri anak. Perubahan ini sering tidak
dapat dipahami oleh anak, sehingga mereka di hinggapi oleh rasa ragu-ragu,
kurang pasti. Kondisi emosional tersebut mengakibatkan menurunnya prestasi
belajar, baik jasmani maupun sikap social. Oleh karena itu, dengan memahami
karakteristik emosional mereka sebagai guru kita dapat mengarahkan mereka
menjadi berkembang kearah yang positif(Dr. Saipul Annur, 2019, pp. 173-174).
2. Cara
Belajar Individu
Aktivitas
belajar terdiri dari dua kata, yakni aktivitas dan belajar. Aktivitas berasal
dari Bahasa inggris “activity”, yang
mengandung banyak arti, antara lain: aktivitas jasmani, kegiatan dan kesibukan.
Dalam kamus pendidikan pelajar dan umum, aktivitas di artikan dengan kegiatan
atau kesibukan, demikian juga dalam kamus ilmiah popular, aktivitas diartikan
dengan kegiatan.Dari pengertian di atas, dapat dipahami bahwa aktivitas adalah
suatu kegiatan atau kesibukan yang dilakukan seseorang.
Jadi,
aktivitas belajar yang di maksud disini adalah suatu kegiatan yang dilakukan
secara sadar oleh individu dalam usahanya untuk menemukan hal-hal baru dalam
usahanya untuk menemukan hal-hal baru dalam mencapai suatu prestasi belajar
yang lebih baik dari sebelumnya. Adapun prosesnya adalah terkait dengan cara
belajar yang ia lakukan baik di sekolah maupun luar sekolah(Dr. Saipul Annur, 2019, p. 174).
Setiap
kegiatan belajar di harapkan akan ada perubahan pada diri individu, seperti
dari tidak tahu menjadi tahu, dari tidak mengerti menjadi mengerti, dari tidak
dapat mengerjakan menjadi dapat mengerjakan, dan dari semula tidak paham
menjadi paham. Perubahan yang terjadi pada diri individu tidak selalu
diakibatkan karena perbuatan belajar, tetapi dapat disebabkan oleh proses
pematangan, misalnya dapat berjalan, dapat duduk, dan dapat berlari(Drs.
Sunaryo, 2004, p. 165).
belajar mengandung barbagai unsur penting yang patut di
cermati, menurut Hamalik antara lain sebagai berikut:
a. Belajar
harus mempunyai tujuan tertentu, tanpa tujuan maka tidak dapat dikatakan
belajar
b. Aktivitas
belajar hendaknya berlangsung lama dan terrencana
c. Aktivitas
belajar berlangsung secara sadar, dan bukan atas paksaan dari pihak manapun
d. Dalam
mencapai tujuan, siswa akan selalu mendapatkan kesulitan, rintangan dan situasi
yang kurang menyenangkan
e. Setiap
kegitan hendknya dihubungkan dengan situasi
dan tujuan belajar, dan lain sebagainya
f. Siswa
diarahkan dan di bantu oleh orang-orang yang berada dalam lingkungan itu, dan
sebagainya
g. Siswa
memberikan reaksi secara keseluruhan
h. Siswa
memberikan reaksi dari lingkungan yang bermakna baginya
i.
Proses belajar terutama
mengerjakan hal-hal yang sebenarnya, yakni belajar apa yang di buat dan
mengerjakan apa yang di pelajari
j.
Siswa
dibawa/diarahkan ketujuan-tujuan lain, baik yang berhubungan maupun tidak
dengan tujuan utama dalam situasi belajar.
Sedangkan menurut Sudjana ada beberapa
indicator yang dapat di jadikan ukuran dalam aktivitas belajar siswa yaitu:
Adanya aktivitas belajar secara individu
dan secara kelompok,
a. Adanya
partisipasi siswa dalam melaksanakan tugas belajar melalui berbicara
b. Adanya
kemampuan untuk menganalisis, sistesis, penilaian dan kesimpulan
c. Terjadinya
hubungan sosial antara sesama siswa dalam melaksanakan kegiatan belajar
d. Setiap
siswa dapat memberikan tanggapan terhadap siswa lainnya
e. Siswa
berkesempatan menggunakan berbagai sumber belajar yang ada
f. Adanya
upaya siswa untuk menilai hasil belajar yang dicapai
g. Adanya
upaya siswa untuk meminta pendapat para guru atau kepada siswa dalam kegiatan
belajar.
Oleh sebab itu belajar harus di motivasi
dari diri individu maupun belajar dengan teman (kelompok) dengan tujuan dapat
meningkatkan prestasi belajar. Adapun belajar individu adalah motivasi dari
diri sendiri tanpa melibatkan orang lain kecuali guru yang membimbing.
Menurut E.R Russefendi, mengemukakan
ada 10 ciri belajar individu, yaitu:
a. Memberikan
kesempatan yang sepenuhnya kepada siswa dalam belajar
b. Siswa
belajar sesuai dengan kemampuannya
c. Pengajaran
itu berpusat pada siswa
d. Siswa
mennetukan sendiri urutan unit yang akan dipelajari
e. Siswa
belajar secara tuntas
f. Setiap
unit yang dipelajari memuat TIK yang jelas
g. Keberhasilan
siswa diukur berdasarkan sistem nilai mutlak
h. Guru
bertindak sebagai pembimbing
i.
Lebih banyak
media pendidikan yang digunakan
j.
Hasil test tak
dipakai sebagai penentu kelulusan siswa.
Dari ciri-ciri belajar individu di atas
dapat di simpulakan bahwa belajar
individu merupakan suatu proses belajar yang memberikan kesempatan
sepenuhnya kepada siswa untuk belajar secara tuntas sedangkan guru hanya
sebagai pembimbing.
Oleh sebab itu motivasi dari dalam diri
individu sangat menentukan di dalam proses belajar. Adapun indikator belajar
individu, yaitu: adanya materi pelajaran, adanya kemampuan untuk menganalisa
materi pelajaran dengan cara membaca dan mencatat serta menjawab soal.
Sedangkan belajar kelompok menurut
Sukmadinata, adalah kesatuan individu yang saling berinteraksi yang
memungkinkan terjadinya interaksi dan respon untuk mencapai tujuan bersama. Hal
senada juga dikemukakan JJ Hasibuan, belajar kelompok adalah startegi belajar
mengajar yang diterapkan oleh beberapa orang siswa dalam mengatasi kesulitan
belajar.
Dari dua pendapat di atas dapat kita
pahami bahwa belajar kelompok adalah strategi belajar yang diterapkan siswa
dalam mengatasi kesulitan belaajar yang dilaksanakan secara kelompok yang
saling berinteraksi guna untuk meningkatkan prestasi belajar.
Oleh sebab itu belajar kelompok
merupakan salah satu cara belajar yang digunakan dalam proses belajar mengajar
yang bertujuan untuk mendapatkan suatu hasil yang baik dibandingkan dengan
mempergunakan cara belajar individu, sebab di dalam belajar kelompok tersebut
akan terjadi dinamika interaksi beberapa siswa dalam kelompok kecil karena
setiap siswa belajar kelompok telah diyakini oleh para ahli sebagai suatu cara
yang efektif dalam mengatasi kejenuhan dalam belajar.
Untuk menerapkan pola belajar kelompok
hendaknya diperhatikan aspek, yang meliputi:
a. Tujuan
Setiap
pekerjaan harus mempunyai tujuan yang jelas dan terarah, begitupun belajar
kelompok, harus mengetahui apa yang harus dikerjakan dan bagaimana
mengerjakannya, sehingga akan mendapatkan hasil yang sesuai dengan yang
diharapkan yaitu berupa prestasi belajar.
b. Interaksi
Interaksi
antar anggota kelompok haruslah benar-benar terlaksanakan, sebab ada kalanya
timbul perbedaan pendapat di dalam memahami suatu masalah sehingga memerlukan
kekompakan dalam mencegah masalah tersebut bersama-sama. Hal ini dapat
dilakukan dengan cara berdiskusi dalam mengatasi masalah tersebut dan bias juga
meminta bantuan guru dalam membantu ketika di dalam belajar kelompok belum
dapat memecahkan suatu masalah yang di anggap rumit.
c. Kepemimpinan
Kepemimpinan
yang ada di dalam belajar kelompok akan berpengaruh besar terhadap suasana
belajar dan pada gilirannya akan mempengaruhi interaksi belajar. Oleh sebab itu
kepemimpinan kelompook sangat menentukan di dalam keberhasilan belajar. Dengan
demikian kepemimpinan belajar kelompok hendaknya di pilih orang yang bijak,
orang yang sabar, orang berpengetahuan luas dan orang yang dihormati oleh
anggota kelompok.
Supaya
aspek-aspek tujuan dari belajar kelompok tersebut terpenuhi maka dalam hal ini
tidak terlepas dari peran serta guru sebagaimana di kemukakan oleh JJ Hasibuan,
yaitu:
a. Organisator
kegiatan belajar mengajar
b. Sumber
informasi bagi siswa
c. Pendorong
bagi siswa untuk belajar
d. Penyediaan
materi dan kesempatan belajar bagi siswa
e. Peserta
kegiatan yang mempunyai hak dan kesempatan yang sama dengan yang lain.
Dengan demikian jelaslah bahwa tugas
guru dalam proses belajar mengajar sangat kompleks dan ini sangat membutuhkan
keahlian guru agar dapat menjauhkan tugasnya secara efektif dan efisien
sehingga terjadinya proses belajar mengajar yang baik(Dr. Saipul Annur, 2019, pp. 174-179).
BAB III
KESIMPULAN
Perbedaan
individual di antara anak didik merupakan hal yang tidak mungkin dihindari,
karena hamper tidak ada kesamaan yang dimiliki oleh manusia kecuali perbedaan
itu sendiri. Karenanya, perbedaan individual anak didik cukup banyak, yang
semuanya merupakan ciri kepribadian anak didik sebagai individu.
Intelegensi
sering di sebut dengan kecerdasan. Istilah “cerdas”
sendiri sudah lazim di pergunakan dalam kehidupan sehari-hari, intelegensi merupakan sebuah ukuran
tingkat kecerdasan yang berkaitan dengan individu. Dalam psikologi intelegensi
memiliki arti yang beranekaragam antara lain, yaitu: kemampuan menyesuaikan
diri dengan situasi baru atau kemampuan menggunakan menggunakan konsep-konsep
abstrak secara efektif. Dengan demikian dapat dikatakan intelegensi adalah
kecerdasan.
Daftar
pustaka
Dr. Saipul Annur, M. (2019). PSIKOLOGI
PENDIDIKAN. Palembang: NoerFikri.
Dra. Rohmalina Wahab, M. (2015). Psikologi
Belajar. jakarta: Rajawali Pers.
Drs. Sunaryo, M. (2004). PSIKOLOGI
untuk keperawatan. jakarta: penerbit Buku Kedokteran EGC.
Prof. Dr. Nyayu Khadijah, S. M.
(2017). Psikologi Pendidikan. jakarta: Rajawali Pers.
Bagaimana cara guru mengatasi perbedaan individu individu dalam bejalar ?
BalasHapusCara guru mengatasi perbedaan individu yaitu
Hapus1. Guru memberikan tugas dan bimbingan serta bantuan kepada setiap siswa sesuai dengan tingkat kemampuan
2.dalam mengajar guru jangan menggunakan ukuran kriteria rata-rata kelas sebagai ukuran keberhasilan, akan tetapi gunakan kriteria tuntas untuk semua siswa. Karena itu yang harus di jadikan skala prioritas dalam mengajar adalah siswa yang kurang mampu, sebab siswa yang pandai tidak di perhatikan oleh guru pun akan tetap menguasai pelajaran.
3.membentuk dan memasukan siswa-siswa yang kurang mampu dalam kelompok-kelompok belajar yang didalamnya terdapat siswa-siswa yang pandai agar dapat belajar bersama dan menguasai pelajaran yang harus di pelajari.
Apakah menurut anda belajar kelompok lebih efektif daripada belajar individu? Sedangkan seringkali dijumpai belajar kelompok malah membuat siswa jadi banyak bermain main namun sedikit belajar?
BalasHapusEfektif atau tidaknya belajar kelompok maupun individu itu tergantung pada diri masing-masing , karna dari pandangan saya ada pihak yg mengatakan lebih efektif belajar sendiri karena lebih merasa nyaman dan fokus karena tidak dalam keramaian , dan ada juga yang mengatakan belajar kelompok lebih efektif dengan alasan jika ada hal-hal yang tidak di ketahui dalam pembelajaran bisa bertanya kepada teman kelompok belajarnya . nah jika di sangkut-pautkan dengan masalah belajar kelompok lebih banyak yang bermain-main itu sebenernya tergantung dari diri sendiri,karena mau belajar sendiri ataupun kelompok jika memang kita benar-benar mau niat belajar pasti tidak akan main-main .
HapusApa saja karakteristik anak didalam perbedaan individu, sebutkan?
BalasHapusNatur dan nature merupakan istilah yang biasa digunakan untuk menjelaskan karakteristik-karakteristik individu dalam hal fisik, mental, dan emosional pada setiap tingkat perkembangan. Sejauh mana seornag dilahirkan menjadi seorang individu seperti “dia” atau sejauh mana seseorang individu dipengaruhi oleh faktor-faktor lingkungan tetap mmerupakan subjek penelitian dan diskusi. Karakteristik yang berkaitan dengan perkembangan faktor biologis cenderung lebih bersifat tetap, sedang karakteristik yang berkaitan dengan sosial psikologis banyak dipengaruhi oleh faktor lingkungan.
HapusBagaimana cara menyesuaikan diri dengan situasi baru atau kemampuan menggunakan menggunakan konsep-konsep abstrak secara efektif?
BalasHapusApa saja faktor-faktor yang mempengaruhi individu belajar?
BalasHapusFaktor bawaan
HapusFaktor bawaan adalah merupakan factor yang diwariskan secara biologis melalui mekanisme genetika.
Ø Faktor Lingkungan
· Lingkungan alam / statis
· Lingkungan social / dinamis
· Lingkungan social
* Status social ekonomi
* Pola asuh orang tua
· Permisif
· Otoriter
· Autoritatif / demokratis
Ø Faktor budaya masyarakat setempat
Apa Saja faktor yang mempengaruhi intelegensi individu?
BalasHapus